Thursday, December 17, 2009

Salak pondoh


Salak pondoh is an important fruit in Yogyakarta province. In the five years to 1999, the annual production of salak pondoh in Yogyakarta doubled to 28,666 tons. The popularity of salak pondoh (compared with other cultivars) among local Indonesian consumers is mainly due to the intensity of its aroma, which can be overripe and sweaty even before full maturation.[1] The salak pondoh cultivar has been produced outside the province. However, the distinctive aroma of salak pondoh is not as popular among non-native consumers.[1]
Salak pondoh has three more superior variations, namely pondoh super, pondoh hitam (black pondoh), and pondoh gading (ivory-english term for gading / yellowish-skinned pondoh)

Salak


Salak (Salacca zalacca) is a species of palm tree (family Arecaceae) native to Indonesia and Malaysia. It is a very short-stemmed palm, with leaves up to 6m long; each leaf has a 2m long petiole with spines up to 15cm long, and numerous leaflets.
The fruit grow in clusters at the base of the palm, and are also known as snake fruit due to the reddish-brown scaly skin. They are about the size and shape of a ripe fig, with a distinct tip. The pulp is edible. The fruit can be peeled by pinching the tip which should cause the skin to slough off so it can be pulled away. The fruit inside consists of three lobes, each containing a large inedible seed. The lobes resemble, and have the consistency of, large peeled garlic cloves. The taste is usually sweet and acidic, but its apple-like texture can vary from very dry and crumbly (salak pondoh from Yogyakarta) to moist and crunchy (salak Bali).

Sunday, May 24, 2009

STUDY KELAYAKAN EKOWISATA

Survey dan Analis
Sebelum kegiatan pengembangan dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan suatu study kelayakan untuk memastikan apakah pengembangan ekowisata layak atau tidak layak dilakukan di target lokasi. Kegiatan ini antara lain mencakup analisis sosial, analisis lingkungan, survey pasar, survey potensi desa, dan analisis ekonomi. Study ini dilakukan oleh konsultan proyek bersama-sama dengan tokoh-tokoh kunci masyarakat serta PT Bintan Resort Cakrawala.


Analisis Sosial
Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui apakah masyarakat dapat menerima kehadiran proyek pengembangan ekowisata dan apakah mereka bersedia berpartisipasi dalam kegiatan ini. Juga untuk mengetahui bagaimana dampak sosial dari proyek ini.

Survey Potensi Desa
Untuk mengetahu seberapa besar potensi yang ada di ke dua desa yang dapat dikembangkan untuk kegiatan ekowisata dari mulai potensi alam, potensi budaya, potensi SDM sampai kepada ketersediaan energi sosial di desa.

Analisis Dampak Lingkungan
Perlu diketahui apakah kegiatan ekowisata yang nanti akan dilaksanakan dapat berpengaruh negatif atau positip terhadap lingkungan hidup. Misal apakah penggunaan perahu motor di sungai akan mempengaruhi ekosistem sungai? atau membawa rombongan wisman mendaki gunung bisa berpengaruh terhadap ekosistem di sana? Berapa jumlah maksimal yang diperbolehkan? Peralatan apa saja yang bisa digunakan untuk kegiatan ekowisata? Tindakan apa yang perlu dilakaukan untuk memperbaiki atau mencegah terjadinya kerusakan lingkungan? dsb.

Survey Pasar Ekowisata
Tujuannya untuk mengetahui seberapa besar minat wisman yang ada dikawasan BBIR untuk mengikuti kegiatan ekowisata di desa? Berapa besar potensi pasar? Jenis kegiatan apa yang mereka sukai/senangi. Berapa besar budget yang bersedia mereka belanjakan di desa? Berapa lama kegiatan yang mereka inginkan?, dsb. Survey dilakukan di Ferry Terminal terhadap wisman yang datang. Digunakan variasi sample wisman berdasarkan kebangsaan, golongan usia, jenis profesi, jenis kelamin, dsb

Analisis Ekonomi (Cost and Benefit)
Melakukan analisis untuk mengetahui apakah kegiatan ekowisata ini bisa 'sustain' atau berkelanjutan dan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar?. Apakah usaha ekowisata bisa bertahan secara bisnis dengan memperhitungkan berbagai faktor resiko dan persaingan bisnis.

Sosialisasi Hasil Study
Hasil survey berikut analisanya disosialisasikan dan di diskusikan secara terbuka dengan seluruh stakeholder. Setelah itu baru disusun langkah-langkah kegiatan pengembangan ekowisata

sumber : http://www.ekowisata.info




Friday, May 15, 2009

Pariwisata Kabupaten Pekalongan

Pekalongan telah lama dikenal sebagai kota batik, dan salah satu pusat produksi batik berada di Kecamatan Buaran dan Wiradesa. Beberapa nama produsen batik yang cukup dikenal diantaranya Batik Humas (singkatan dari Husein Mohammad Assegaff). Sedangkan pabrik sarung (kain palekat) terkenal di Pekalongan antara lain Gajah Duduk dan WadiMoor.

Di bagian selatan terdapat daerah wisata pegunungan Linggo Asri, terletak 37 km sebelah selatan Kota Pekalongan arah Kajen (dari jalan Jakarta-Semarang pertigaan Wiradesa ke selatan atau dari kota Pekalongan arah Buaran), dimana daerah tersebut terdapat pemandian dan taman bermain seta wisata hutan pinus milik Perum Perhutani dan juga terdapat komunitas masyarakat Hindu di Pekalongan.Disini terdapat peninggalan berupa lingga dan yoni yang terletak sekitar 500 meter dari kompleks pemandian linggo asri.

Sebenarnya masih banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan di Kabupaten Pekalongan, antara lain, Pantai Sunter Depok, Ekowisata Petungkriyono, Wisata Air, Wisata hutan, Wisata budaya dll. Pekalongan masih menunggu investor yang ingin mengembangkan obyek wisata ini.

Buat penikmat makanan, Pekalongan menyediakan wisata kuliner berupa Taoto dan nasi megono, Taoto adalah sejenis soto yang dibuat dengan kuah taoco dan dengan daging serta jerohan kerbau. Sedang megono adalah cacahan nangka muda yang dibumbui parutan kelapa dan dikukus yang cocok buat dinikmati saat masih panas.
sumber : wikipedia

Tipe Desa Wisata

Menurut pola, proses dan tipe pengelolanya desa atau kampung wisata di Indonesia sendiri, terbagi dalam dua bentuk yaitu tipe terstruktur dan tipe terbuka.

Tipe terstruktur (enclave)
  1. Tipe terstruktur ditandai dengan karakter-karakter sebagai berikut :
  2. Lahan terbatas yang dilengkapi dengan infrastruktur yang spesifik untuk kawasan tersebut. Tipe ini mempunyai kelebihan dalam citra yang ditumbuhkannya sehingga mampu menembus pasar internasional.
  3. Lokasi pada umumnya terpisah dari masyarakat atau penduduk lokal, sehingga dampak negatif yang ditimbulkannya diharapkan terkontrol. Selain itu pencemaran sosial budaya yang ditimbulkan akan terdeteksi sejak dini.
  4. Lahan tidak terlalu besar dan masih dalam tingkat kemampuan perencanaan yang integratif dan terkoordinir, sehingga diharapkan akan tampil menjadi semacam agen untuk mendapatkan dana-dana internasional sebagai unsur utama untuk “menangkap” servis-servis dari hotel-hotel berbintang lima.
Contoh dari kawasan atau perkampungan wisata jenis ini adalah kawasan Nusa Dua, Bali dan beberapa kawasan wisata di Lombok. Pedesaan tersebut diakui sebagai suatu pendekatan yang tidak saja berhasil secara nasional, melainkan juga pada tingkat internasional. Pemerintah Indonesia mengharapkan beberapa tempat di Indonesia yang tepat dapat dirancang dengan konsep yang serupa.

Tipe Terbuka (spontaneus)
Tipe ini ditandai dengan karakter-karakter yaitu tumbuh menyatunya kawasan dengan struktur kehidupan, baik ruang maupun pola dengan masyarakat lokal. Distribusi pendapatan yang didapat dari wisatawan dapat langsung dinikmati oleh penduduk lokal, akan tetapi dampak negatifnya cepat menjalar menjadi satu ke dalam penduduk lokal, sehingga sulit dikendalikan. Contoh dari tipe perkampungan wisata jenis ini adalah kawasan Prawirotaman, Yogyakarta.

Desa wisata

Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. ( Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3)

Terdapat dua konsep yang utama dalam komponen desa wisata :
1. Akomodasi : sebagian dari tempat tinggal para penduduk setempat dan atau unit-unit yang berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk.

2. Atraksi : seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipasi aktif seperti : kursus tari, bahasa dan lain-lain yang spesifik.

Kriteria Desa Wisata

Pada pendekatan ini diperlukan beberapa kriteria yaitu :
  1. Atraksi wisata; yaitu semua yang mencakup alam, budaya dan hasil ciptaan manusia. Atraksi yang dipilih adalah yang paling menarik dan atraktif di desa.
  2. Jarak Tempuh; adalah jarak tempuh dari kawasan wisata terutama tempat tinggal wisatawan dan juga jarak tempuh dari ibukota provinsi dan jarak dari ibukota kabupaten.
  3. Besaran Desa; menyangkut masalah-masalah jumlah rumah, jumlah penduduk, karakteristik dan luas wilayah desa. Kriteria ini berkaitan dengan daya dukung kepariwisataan pada suatu desa.
  4. Sistem Kepercayaan dan kemasyarakatan; merupakan aspek penting mengingat adanya aturan-aturan yang khusus pada komunitas sebuah desa. Perlu dipertimbangkan adalah agama yang menjadi mayoritas dan sistem kemasyarakatan yang ada.
  5. Ketersediaan infrastruktur; meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi, fasilitas listrik, air bersih, drainase, telepon dan sebagainya.

Masing-masing kriteria digunakan untuk melihat karakteristik utama suatu desa untuk kemudian menetukan apakah suatu desa akan menjadi desa dengan tipe berhenti sejenak, tipe one day trip atau tipe tinggal inap.


Sedangkan Edward Inskeep, dalam Tourism Planning An Integrated and Sustainable Development Approach, hal. 166 memberikan definisi : Village Tourism, where small groups of tourist stay in or near traditional, often remote villages and learn about village life and the local environment. Inskeep : Wisata pedesaan dimana sekelompok kecil wisatawan tinggal dalam atau dekat dengan suasana tradisional, sering di desa-desa yang terpencil dan belajar tentang kehidupan pedesaan dan lingkungan setempat.